Sabtu, 05 Desember 2015

Ayah

Cerita Tentang Ayah 
Dia memang bukanlah seorang superhero hebat seperi superman, dia bukanlah superhero hebat yang juga sekaligus jutawan kaya raya seperti iron man, dia bukanlah seorang presiden, dia bukanlah orang nomor satu di negeri ini, dia bukanlah siapa-siapa, dia hanyalah seorang yang menkjubkan dan nomor satu di hatiku yang aku merasa sangat beruntung telah memilikinya. Dia lah ayahku yang hebat dan tak ada gantinya!!

Dia memang tidak bisa terbang dan tidak memiliki kekuatan super seperti superman, juga bukanlah seorang jutawan kaya raya yang mampu menyelamatkan banyak manusia seperti iron man, tapi dia lah ayahku. Seorang ayah yang telah merawatku sejak aku kecil, mengajariku mengenai banyak hal, mendidikku dengan hal-hal yang baik, tak pernah dia menunjukkan hal-hal yang tak baik di hadapanku, karena aku tahu dia lah ayah yang terbaik bagiku. Dia lah yang biasa aku panggil bapak di rumah. Bapakku yang menjadi guru dalam segala hal bagiku. Apapun panggilannya, baik itu ayah, bapak, papah, abi, abah, babeh, daddy, father, atau apapun, dimana pun itu, panggilan-panggilan itu tetap memiliki arti yang sama yaitu seorang laki-laki yang akan selalu tetap tegar demi anak-anaknya dan dia lah yang terhebat. Dia yang akan selalu ada bagi keluarganya.

Ini adalah ceritaku tentang ayahku yang hingga kini usiaku sudah menginjak 18 tahun yang artinya kini aku sudah beranjak dewasa, aku menyadari segala perjuangan yang telah dia lakukan untuk diriku dan aku tahu bahwa itu bukanlah hal yang mudah untuk berjuang selama  hidupnya bagi istrinya dan juga anak-anaknya. Yang dia inginkan hanyalah dia dapat  melihat keluarganya bahagia, juga satu-satunya harapan seorang ayah bagi anak-anaknya adalah agar dia kelak dapat tersenyum bangga menyaksikan anaknya meraih kesuksesan dan mendapatkan pencapaian terbaik dalam hidupnya. Mungkin seluruh hidup dari seorang ayah hanyalah untuk melihat  anaknya dapat berbahagia, mencapai kesuksesan, mendapatkan pencapaian terbaik dalam segala urusan kehidupannya dan lulus dengan nilai terbaik dalam pendidikannya. Tak perlu membalas seberapa banyak uang yang dia keluarkan bagi pendidikan kita, asalkan dia tahu bahwa kita sukses dan menjadi orang yang berguna, itu semua sudah cukup untuk membayar pengorbanannya, sekali pun mungkin belum cukup, jangan lelah untuk berusaha dan berbakti pada ayahmu.

Aku adalah seorang anak yang benar-benar bangga memiliki ayah sepertimu, yang selalu tahu bagaimana membuat hal tak pernah menjadi serumit yang aku bayangkan, seorang ayah yang jalan pikirannya tak mampu ditebak, seorang ayah yang selalu menciptakan tawa pada keluarga kecil ini, seorang ayah yang tak lelah berjuang bagi keluarganya, seorang ayah yang menyayangi istri dan juga anak-anaknya, seorang ayah yang bersedia meluangkan waktunya untuk mendengarkan banyak cerita dari anak-anaknya, seorang ayah yang selalu siap meluangkan waktunya untuk menyelesaikan hal-hal yang tak mampu aku, adikku dan ibu lakukan, seorang ayah yang luar biasa baik dan sangat hebat. Tak sama dengan yang lainnya, hebat dan menakjubkan!

Ini hanyalah sebagian kecil dari apa yang biasa aku lakukan denganmu ayah. Semua hal yang ada pada kami tak pernah cukup untuk  aku tuliskan disini, apapun yang terjadi, setiap hal takkan mampu merubah ini semua, dia ayah terhebat dan aku sangat menyayanginya. Tulisan ini hanyalah sebagian dari ungkapanku untuknya, karena sebanyak apapaun kata-kata yang ada, aku yakin itu semua takkan pernah cukup untuk mewakili perasaan ini. Terimakasih telah menjadi ayah yang baik bagiku, ayah yang membuatku percaya bahwa tak semua laki-laki itu menyebalkan dan tidak setia. Terimakasih banyak ayah :)
Kasih Sayang Ayah
kasih sayang ayah Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bermain atau berdongeng. Tapi tahukah kamu, bahwa setiap Ayah pulang kerja dan dengan wajah lelah, Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang keadaanmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat engkau masih seorang anak perempuan kecil, Ayah mengajarimu naik sepeda. Setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu.
Kemudian Ibu bilang, “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya”. Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. Tapi sadarkah kamu, bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya pasti bisa.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas, “kita beli nanti, tidak sekarang”
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa membelikan yang kamu inginkan.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja, Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Ayah, kamu sangat luar biasa berharga.
Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu.
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu. Tapi lagi-lagi, dia harus menjagamu.
Ketika kamu menjadi gadis dewasa. Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain. Ayah harus melepasmu.
Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi sedikit nasehat, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik”.
Ayah melakukan itu semua agar kamu kuat.
Mungkin Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu, tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.
Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai suatu saat, ada seorang Lelaki datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya. Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin. Karena Ayah tahu bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya…. Saat Ayah melihatmu duduk di Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia…..
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang dan menangis? Ayah menangis karena bahagia, sedih, bercampur haru.
kemudian Ayah berdoa. Dalam lirih doanya, Ayah berkata:
“Ya Alloh, Ya Tuhanku, Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Semoga ilustrasi di atas memberi gambaran tentang kasih sayang ayah kita. Serta menambah semangat untuk berbakti kepada orang tua dan membalas kasih sayang Ayah kita.
- See more at: http://falasik.com/kasih-sayang-ayah/#sthash.Pz3e4A2U.dpuf
Kasih Sayang Ayah
kasih sayang ayah Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bermain atau berdongeng. Tapi tahukah kamu, bahwa setiap Ayah pulang kerja dan dengan wajah lelah, Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang keadaanmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat engkau masih seorang anak perempuan kecil, Ayah mengajarimu naik sepeda. Setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu.
Kemudian Ibu bilang, “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya”. Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. Tapi sadarkah kamu, bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya pasti bisa.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas, “kita beli nanti, tidak sekarang”
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa membelikan yang kamu inginkan.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”. Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja, Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”. Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Ayah, kamu sangat luar biasa berharga.
Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu.
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu. Tapi lagi-lagi, dia harus menjagamu.
Ketika kamu menjadi gadis dewasa. Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain. Ayah harus melepasmu.
Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi sedikit nasehat, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.
Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik”.
Ayah melakukan itu semua agar kamu kuat.
Mungkin Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu, tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.
Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai suatu saat, ada seorang Lelaki datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya. Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin. Karena Ayah tahu bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya…. Saat Ayah melihatmu duduk di Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia…..
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang dan menangis? Ayah menangis karena bahagia, sedih, bercampur haru.
kemudian Ayah berdoa. Dalam lirih doanya, Ayah berkata:
“Ya Alloh, Ya Tuhanku, Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”
Semoga ilustrasi di atas memberi gambaran tentang kasih sayang ayah kita. Serta menambah semangat untuk berbakti kepada orang tua dan membalas kasih sayang Ayah kita.
- See more at: http://falasik.com/kasih-sayang-ayah/#sthash.Pz3e4A2U.dpuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar